Rabu, 26 Juli 2017

KONTEKS DAN ETNOGRAFI KOMUNIKASI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti halnya aktivitas-aktivitas sosial laInnya, kegiatan berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat didalamnya. Di dalam berbicara, pnutur dan lawan tutur sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual (Allan, dalam Dewa Putu Wijaya, 1996 : 45).
Di dalam komunikasi yang wajar agaknya dapat diasumsikan bahwa seorang penutur mengartiklasikan ujaran dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu pada lawan bicaranya dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan itu. Ntuk ini penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan mudah dipahami, padat dan ringkas (Dewa Putu Wijaya, 1996:45).
Dalam berkomunikasi diperlukan konteks agar pembicaraan berlangsung nyaman, yang nantinya tidak terjadi salah paham oleh maksud pembicaraan. Pada kesempatan ini penulis membahas tentang konteks dan etnografi komunikasi, dimana pada etnografi komunikasi juga sangat memerlukan konteks dalam aplikasinya.





B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka makalah ini terbatas pada pembahasan tentang pa itu konteks dan etnografi komunikasi?

C.     Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, tujuan dari makalah ini yaitu menjelaskan tentang konteks dan etnografi komunikasi.





BAB II
PEMBAHASAN

1.      Konteks
Istilah konteks pertama kali di perkenalkan oleh Malinowski dengan sebutan konteks situasi. Dalam berkomunikasi konteks sangat diperlukan, agar percakapan berlangsung dengan baik dan tuturan dapat dipahami oleh mitra tutur. Menurut Ike Revite (2013 : 21) konteks ialah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadahi sebuah pertuturan. Misalnya ketika seorang Ayah  pulang dari kantor dan melihat rumah berantakan, ia berkata:
 “Siapa yang bermain-main di ruangan ini?”
Ujaran diatas diinterpretasikan oleh pembantunya sebagai perintah untuk membersihkan rumah. Bagi Istri, ini merupakan peringatan agar senantiasa mengawasi anak-anak mereka yang masih kecil. Pemahaman yang berbeda akan suatu ujaran yang sama, seperti ujaran diatas, disebabkan oleh konteks sosial, hak dan kewajiban serta pengalaman yang dialami peserta tutur. Contoh lainnya sebagai berikut:
Anianglah, kecek den!
            Tuturan diatas merupakan suatu perintah untuk menenangkan seseorang yang melakukan suatu tindakan, dalam suatu konteks pertuturan, lawan tutur yang mendengarkan kalimat ini dapat memahami dengan mudah isi komunikasi. Responnya dapat patuh namun bisa juga memberikan perlawanan.



Menurut Leech (dalam Ike Revita) konteks situasi tutur mencangkup:

1.      Penutur dan mitra tutur yang mencangkup aspek-aspek yang berkaitan dengan peserta tutur, seperti usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban dan lain-lain.
2.      Konteks tuturan yaitu konteks dalam semua aspek fisik dan seting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan  (konteks).
3.      Tujuan tuturan yakni bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan penutur dilatar belakangi oleh maksud dan tujuan tertentu.
4.      Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, artinya sebuah tuturan berhubungan dengan tindak verbal yang terjadi dalam situasi tertentu.
5.      Tuturan sebagai produk tidak verbal, berarti bahwa tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal.
Kelima konteks situasi tutur diatas dalam konsep Hymes dikenal dengna istilah akronim speaking, masing-masing komponen speaking ini adalah setting, participant, end, act, key, instrument, norma, dan genre.

2.      Etnografi komunikasi

Etnografi komunikasi pertama kali dicetuskan oleh Dell Hymes pada tahun 1962. Menurut Koenjraningrat etnografi komunikasi adalah pengkajian peranan bahasa dalam perilaku komunikasi suatu masyarakat, yaitu cara-cara bagaimana bahasa dipergunakan dalam masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya.
Dalam struktur dan mencermati penggunaan bahasa, seorang penutur tidak hanya dituntut mahir mengkonstruksikan kalimat yang gramatikal tetapi juga diharuskan mengetahui unsur-unsur diluar aspek kebahasaan yang disebut etnografi komunikasi. Diantara unsur yang menurut Hymes harus diperhatikan adalah latar, partisipan, tujuan, urutan tindakan, kunci, instrumen, norma, dan genre.

1.      Latar, disebut juga situasi tindakan yang terkait dengan waktu atau situasi pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan tuturan yang berbeda.
2.      Partisipan terdiri dari penutur lawan tutur, pengirim-penerima pesan. Tipe-tipe tuturan yang dipakai dalam suatu peristiwa tutur ditentukan oleh latar belakang dan kedudukan masing-masing partisipan.
3.      Tujuan, mencangkup maksud dan hasil yang diinginkan penutur. Peristiwa tutur dalam suatu tempat, waktu dan situasi tertentu mempunyai maksud tertentu. Dalam suatu tindak tutur, bentuk tuturan yang dipakai, dan cara penyampaian menentukan ketercapaian maksud atau tujuan.
4.      Urutan tindakan atau peristiwa dalam suatu peristiwa tutur juga memainkan peran dalam membentuk makna atau pesan dalam suatu tuturan. Disamping itu, nada dan cara pengungkapan suatu tuturan juga memiliki peran strategis. Suatu tuturan kemungkinannya disampaikan dengan senang hati, serius, singkat, mengejek, dan  lainnya.
5.      Peran, piranti, atau alat-alat yang sering disebut instrumental adalah saluran yang digunakan dan bentuk tutur. Istrumen yang digunakan beragam pula seperti bahasa lisan dan tulisan.  Disamping itu, acuannya juga pada kode, ujaran yang digunakan seperti dialek. Bentuk tutur lebih mengarah pada tatanan perangkat kebahasaan yang berskala bahasa, dialek dan variasi-variasi yang dipakai secara luas. Sedangkan gaya tutur lebih mengarah pada aspek manusianya, situasi, genre. Instrumental terbentuk dari kombinasi antara saluran dan bentuk bahasa.
6.      Norma, mencakup norma interaksi dan norma interpretasi. Dalam suatu tuturan,partisipan perlu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan cara menyampaikan pesan, berinterupsi, bertanya dan sebagainya. Hal itu juga berlaku dalam melakukan penafsiran terhadap suatu pesan yang disampaikan lawan tutur.
7.      Genre, merupakan jenis-jenis tuturan seperti puisi, dongeng, peribahasa, teka-teki, doa, dan lainnya.  Bentuk bahasa yang dipakai pada setiap genre itu akan berbeda satu sama lain. Bentuk bahasa itulah aynag sekaligus membedakan puisi dengan cerpen, humur dan yang bukan humor.
(Oktavianus, 2006 : 160-161)
Menurut Oktavianus (2006 :163-167 ) etnografi komunikasi sangat berperan dalam menentukan bentuk, makna, fungsi dan nilai yang terkandung dalam suatu tuturan. Untuk mencermati hal yang demikian, bagian berikut akan memaparkan salah satu model analisis dengan memakai pendekatan etnografi komunikasi. Data diambil dari penggalan dialog antara dua orang yang memiliki kekerabatan yang erat.
A: ketek indak disambuik namo. Gadang indak disabuik gala. Dilingkuang salam kasadonyo.
B: yoo mak!
A: adopun buah rundiang ka mamak tatiangkan, yaitu basiamng ateh tumbuah. Barago ateh rupo, yo lah tantang adiak kalian si Sani.
B: Iyo mak!
A: jikok dipandang bangkah layia, nampaknyo inyo alah gadih gadang. Ibaraik kacang, ureknyo lah taguah ka bumi. Gaganglah panjang daun lah rimbun. Sadangkan kito lah tau, sarampak-rampak kacang panjang, kalau tumbuahnyo indak dijunjuangkan, mako daunnyio ka kucuik kuniang. Buahnyo kasingkek, gadang di bijo.
B: yo mak!
A: malaah kalau dipabiakan manjelo pamatang, alamaik ka dipijak, dilendo jawi atau ka malilik tanaman urang, dado badurinyo panjeknyo, kalau tasuo nan baitu tantu tacoreang arang dikaniang arang di Datuak Limbatang. Malu sarumpun bujang sambilan.
B: iyo
A: mako dari itu, manuruik pandapek mamak kini ko lah patuik bana kacang di bari bajunjuang. Untuang-untuang daun sahalai jadi saparak, ka panolong pusako adaik, ka paunyi rumah nan gadang. Sakian sajo dari mamak. Pulang partimbangan ka nan basamo.
B: alah sampai di Mak Datuak?
A: alah dahulu..................
Penggalan dialog diatas adalah pembicaraan seorang mamak kepada kemenakannya, pembicaraan ini harus sesuai dengan konteksnya. Topik pembicaraan adalah perihal pencarian jodoh kamanakan perempuan yang sudah berangkat dewasa dan sudah waktunya untuk bersuami. Pembicaraan berlansung di rumah kamanakannya.
Pada masa lalu bahkan juga pada masa sekarang adalah tanggung jawab mamak dengan segenap keluarganya untuk membicarakan dan bhakan mencarikan jodoh apabila seorang perempuan yang sudah dianggap pantas bersuami tetapi belum juga mendapat jodoh. Perundingan tentang hal yang satu ini tidak dapat dilakukan di sembarangna tempat. Perundingan harus dilakukan di rumah pihak perempuan atau di rumah kaumya. Pembicaran tidak pantas dilakukan di rumah mamak atau di rumah istri saudara laki-laki karena rumah mamak di anggap sebagai tempa yang kurang pantas untuk membicarakan hal itu.
Selanjutnya, dalam masyarakat Minangkabau hubungan antar persorangan seperti mamak dan kemenakan, baik anatara kamanakan laki-laki atau perempuan yang sudah dewasa, seorang mamak dengan saudara perempuannya dapat dikatakan sebagai hubungan yang rumit dalam pengertian mengandung unsur hormat menghormati, dan segan menyegani. Seorang mamak tidak akan menyampaikan sesuatu kepada kemenakan perempuannya atau saudara perempuannya secara langsung. Ia akan memilih menyampaikan suatu secara tidak langsung atau melalui kias. Ini merupakan salah satu cara bahasa yang mempertimbangkan faktor kearifan. Fenomena ini seperti ini dapat dicermati pada wacana diatas yang dikutip sebagai berikut:
“jikok dipandang bangkah layia, nampaknyo inyo alah gadih gadang. Ibaraik kacang, ureknyo lah taguah ka bumi. Gaganglah panajng daun lah rimbun. Sadangkan kito lah tau, sarampak-rampak kacang panjang, kalau tumbuahnyo indak dijunjuangkan, mako daunnyio ka kucuik kuniang. Buahnyo kasingkek, gadang di bijo”
Tuturan diatas memperlihatkan bagaimana seorang mamak berbicara kepada kamanakan laki-laki bahwa saudara perempuannya sudah pantas bersuami. Hal itu disampaikan dengan menggunkan ujaran yang tidak langsung dalam bentuk penggunaan metafora. Hanya satu ujaran langsung yang muncul, sebagai berikut:
“jikok dipandang bangkah layia, nampaknyo inyo alah gadih gadang.”
jika dilihat secara lahiriah kelihatnnya ia sudah dewasa.”
Ujaran selanjutnya mengambil perumpamaan pada kacang. Tentu saja akan terasa tabu dan kurang pantas apabila seorang mamak mendeskripsikan ungkapan gadih gaang (gadis sudah dewasa dan sudah pantas untuk bersuami) dengan ungkapan-ungkapan langsung atau dalam istilah Minang tembak tupai. Sebagai pengganti, ungkapan berikut digunakan.
Ibaraik kacang, ureknyo lah taguah ka bumi. Gaganglah panajng daun lah rimbun.
‘ibarat kacang, uranya sudah kokoh, gagangnya sudah panjang, daun sudah rimbun’
Ungkapan diatas mengandung pengertian yang dalam. Sesuatu yang dianggap tabu telah secara tidak langsung tersembunyikan dibalik ungkapan itu.
Akibat yang ditanggung seorang wanita yang terlambat bersuami juga dideskripsikan dengan mengibaratkannya dengan kacang. Pembicaraan akan terasa janggal dan tabu apabila seorang mamak mengatakannya dengan ungkapan langsung. Oleh sebab itu, ungakapn berikut juga digunakan sebagai pengganti.
sarampak-rampak kacang panjang, kalau tumbuahnyo indak dijunjuangkan, mako daunnyio ka kucuik kuniang. Buahnyo kasingkek, gadang di bijo.
serimbun-rimbunnya kacang panjang kalau tumbuhnya tidak diberi junjungan, kalau tumbuhnya tidak diberi junjung, kacang itu tidak akan tumbuh dengan sempurna’
Dari konteks pertuturan pesan yang ingin dikatakan melalui ungkapan itu kurang lebih sebaik-baik tidak bersuami, tentu lebih baik juga bersuami. Hal ini iperkuat pula oleh pemunculan ungkpan berikut.
kalau dipabiakan manjelo pamatang, alamaik ka dipijak, dilendo jawi atau ka malilik tanaman urang, dado badurinyo panjeknyo
‘kalau dibiarkan memanjat pematang, alamat akan diinjak sapi, melilit tanaman orang, dedap berduri dipanjatnya’
Yang ingin disampaikan melalui ungkapan itu kurang lebih adalah kalau dibiaran tidak bersuami mungkin akan diganggu dan dirusak orang atau dia akan salah langkah.
Selanjutnya para kamanakan merespon paparan mamaknya dengan sopan. Fenomena ini akan teramati dengan jelas apabila didengarkan pertuturannya secara lisanny. Intonasi yang digunakan menunjukkan bahwa dialog berlangsung dengan sopan, dan tidak ada yang menyela dengan tiba-tiba.
Pengungkapan tuturan diatas mungkin tidak akan seperti itu apa bila mitra tutur bukan seorang mamak dan kamanakannya. Untuk membicarakan hal yang sama sebagai contoh seorang mamak dengan mamak yang lainnya akan menggunakan konstruksi tuturan yang berbeda, sesuai konteksnya. Tidak akan ada hambatan bagi mereka menggunakan ujaran-ujaran berikut.
1.      Si Sani iyolah patuik batompangan. Lah gadang inyo nampak di den.
2.      Alun juo ado urang nan datang ka Si Sani. Ndak ka mungkin inyo baitu jo taruih do.
Fenomena  pemakaian bahasa seperti diatas memperlihatkan bahwa konstruksi suatu wacana ditentukan oleh siapa berbicara kepada siapa, kapan, dan dimana. Etnografi komunikasi menentukan esensi sebuah tuturan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Dalam etnografi komunikasi konteks sangat diperlukan agar komunikasi penutur dengan lawan tutur berjalan dengan lancar. Konteks berhubungan dengan segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh penutur dan lawan tuturnya serta menyertai dan mewadahi sebuah pertuturan. Sedangakan etnografi berupaya menelaah pola-pola penggunaan atau ragam bahasa dalam budaya tertentu.

B.     Kritik dan Saran

Penulis menyadari dalam  makalah ini terdapat banyak kesalahan , baik dalam penyusunan maupun penulisan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar sempurnanya makalah ini.


                                                                                                                                                                 
DAFTAR PUSTAKA

Oktavianus. 2006. Analisis Wacana Lintas Budaya. Padang: Andalas University Press.
Revita, Ike. 2013. Pragmatik: Kajian Tindak Tutur Permintaan Lintas Bahasa. Padang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI.